Menjadi Keledai Bodoh

(Sumber gambar: yoppyheddy[dot]wordpress[dot]com)

Ada satu masa dalam hidup ini, kita salah dalam mengambil keputusan. Saya mengalaminya beberapa kali dan dampaknya sangat parah. Ternyata keterampilan berpikir-bertindak-merasakan itu harus terus diasah.

Saya sudah bosan mendengar, bahkan sejak usia di SD, orang tua selalu bilang, pikir terlebih dahulu baru bertindak. Tapi petuah itu, masuk telinga kanan, melarikan diri melalui telinga kiri. Dan saya pun kadang menasehatkan itu ke teman yang sedang curhat. Apalagi saat ini saya adalah seorang guru, maka nasehat itu, mungkin tiga kali dalam seminggu kusampaikan ke siswa-siswaku, tapi entah mengapa sangat susah dilakukan. Hingga umur yang sudah kepala dua ini, saya masih saja ceroboh, gegabah, dan lebih banyak menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan.

Sangat sering jika mengalami masalah, pertimbangan itu lahir dari pikiran yang jernih dan pertimbangan yang logis, bahkan terkadang terdapat lima hal yang dipertimbangkan, namun pada ujungnya perasaan yang memutuskan dan hasilnya selalu buruk. Saya kadang malu dengan umurku dan juga khawatir jangan sampai hanya saya: orang yang sudah berumur begini tapi masih sangat sering salah dalam mengambil keputusan. 

Ada pepatah mengatakan, hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Saat masih aktif di lembaga pers kampus, saya pernah menulis ini dalam sebuah editorial: hanya keledai bodoh yang jatuh pada lubang yang sama hingga tiga kali. Ketika seorang teman membacanya, ia berkata, luar biasa, sudah keledai, bodoh lagi, kebodohan kuadrat.

Pada Beberapa film kartun yang saya pernah tonton, jika ada satu karakter yang bertindak bodoh, maka kepalanya akan beubah menjadi kepala keledai dan di punggugnya akan tertulis kata dumb yang artinya dungu. Dan dungu lebih parah dari bodoh. Dungu cocok untuk keledai yang jatuh pada lubang yang sama sebanyak tiga kali. 

Saya ingin sekali bertemu dengan orang waskita, orang yang selain mampu melihat dengan mata biologisnya, juga mampu melihat dengan mata batinnya. Saya ingin bertanya, apakah saat ini saya menjadi keledai bodoh. Pasti jawabannya adalah "ya"

(Sumber gambar: mutiarabirusamudra[dot]blogdetik[dot]com)
Tapi saya selalu bersyukur, saat menjadi keledai bodoh, tak ada orang yang kurugikan, tak ada orang yang tersakiti, paling tidak hingga saat ini. Tapi itu tidak bisa menjadi satu alasan bahwa kebiasaanku menjadi keledai bodoh itu benar.

Saya masih terus berusaha, paling tidak beubah dari keledai bodoh menjadi keledai saja dan di kemudian hari menjadi manusia dewasa. Semoga saja.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjadi Keledai Bodoh"

Posting Komentar